Welcome


Selasa, 27 September 2011

Cool or Shy Girl


Naruto © Masashi Kishimoto
Warn: AU, OOC. Alur cepet. Genre nggak jelas.

'Hhh...' desah Hinata Hyuuga dari tempat duduknya sambil melihat pada sekumpulan siswa-siswi yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. Mereka sedang asyik mengobrol, padahal bel sekolah tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi. Hinata yang memang bertugas menulis laporan harian masih berada di kelas.


Braakk!


Hinata memukul mejanya dengan keras. Semua kepala menoleh ke arahnya.


"Bisakah kalian jangan berisik? Aku tidak bisa konsentrasi menulis. Kalau kalian ingin mengobrol carilah tempat lain yang tidak mengganggu orang." Hinata berkata dengan nada dingin. Padahal dalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri karena melakukan hal seperti ini lagi. Berbicara dengan nada sinis.



"Ah, maafkan kami Hyuuga-chan. Kami tak akan terlalu ribut," ujar Naruto Uzumaki -dengan cengiran khasnya- dari tengah-tengah kumpulan. Hinata yang dipanggil namanya, walaupun hanya nama keluarganya, sedikit ada semburat merah di wajahnya. Namun dengan segera dapat dikendalikannya.


"Hmmm..." ujarnya menjawab pernyataan Naruto.


'Aduuuhh... Aku tidak percaya Naruto berbicara padaku. Bodohnya aku cuek di hadapannya.' Hinata membatin, "hhh... Kalau saja aku bisa bersikap layaknya Shion di hadapan Naruto.' Hinata menatap nanar pada Naruto yang ada di tengah-tengah kelompok, yang terdiri dari anak-anak kelasnya dan teman-teman Naruto. Naruto dan Sasuke Uchiha ada di antara kelompok itu. Di samping kanan Naruto yang duduk di atas kusen jendela ada Shion, teman sekelas Hinata, yang menurut gosip dia menyukai Naruto. Di sebelah kiri Naruto ada Sasuke Uchiha, sahabat baik Naruto, yang berdiri bersandar dekat kusen jendela sedang berbicara dengan pacarnya, Sakura Haruno. Mereka dikelilingi oleh anak-anak kelas ini yang suka berbincang-bincang dengan Naruto, karena Naruto itu orangnya asyik diajak ngobrol.


Hinata kembali membatin, 'andai saja aku bisa berada di antara mereka, di dekat Naruto... Tapi, itu hanya harapan belaka, mustahil. Sama mustahilnya dengan Naruto yang memiliki perasaan yang sama terhadapku, tidak mungkin Naruto menyukaiku. Sangat mustahil.'


Sementara Hinata membatin sambil mengerjakan tugasnya, salah satu anak di kelompok itu membisikan sesuatu.


"Hyuuga itu sebenarnya manis dan cantik, hanya saja sayang dia begitu jutek. Kalau dia baik, aku mau saja jadi pacarnya," ujar Kiba Inuzuka.


"Hah, kau berhayal Kiba," jawab Naruto. Ada sedikit nada kesal pada perkataanya.


"Heee... Naruto-kun tidak menyukai Hinata kan? tanya Shion, "iya kaaan?" Naruto hanya menjawab pertanyaan Shion dengan cengengesan. Lalu pintu kelas terbuka dan masuklah seorang gadis berambut pirang yang diikat tinggi satu.


"Ino!" sahut Sakura.


"Hey, jadikan kita pergi?" ujarnya sambil berjalan masuk kelas. "Lebih baik kita cepat, nanti kafenya keburu penuh."


"Tentu saja," jawab Sakura. "Sasuke-kun, aku pulang duluan ya. Tapi mau mampir sebentar."


"Hn, mau mampir ke mana dulu?" tanya Sasuke.


"Aku dan Ino mau ke kafe yang baru di buka di dekat stasiun. Tidak akan lama kok."


"Hn, kalau begitu hati-hati. Sms kalau sudah sampai rumah," kata Sasuke.


"Iya, makasih Sasuke-kun." Sakura lalu mencium pipi Sasuke sekilas, dan pergi mengambil tas lalu berjalan keluar kelas bersama Ino.


"Dasar, pasangan mesra," ujar Naruto.


"Bilang saja kau iri, Dobe," ledek Sasuke. Naruto hanya menggerutu.


"Hei, Naruto-kun, mau coba aku hipnotis nggak? Aku belajar dari kakekku," kata Shion.


"Boleh saja," jawab Naruto. Lalu Shion mempraktekan seperti apa yang dilakukan oleh kakeknya pada Naruto.


Hinata diam-diam memperhatikan mereka. Shion lalu berkata, "kamu akan menyukai orang yang pertama kali kamu lihat. Sekarang buka matamu!" Hinata sedikit terkejut dengan perkataan Shion, dan hampir saja menjatuhkan pulpen yang sedang ia pegang.


Naruto lalu membuka matanya, dan yang pertama kali ia lihat adalah... Sasuke. Naruto lalu berjalan menghampiri Sasuke dan langsung memeluk Sasuke. Sasuke tentu saja kaget dan berteriak. "Huwaaa! Apa yang kau lakukan bodoh!"


Naruto hanya terkekeh, "hehehe... Sasukeee... Aku suka kamu."


Reaksi mereka adalah... Hinata sukses menganga lebar dan pulpen yang dipegangnya terjatuh. Shion kaget sambil menutup mulutnya. Kiba hanya tertawa terbahak-bahak. Sasuke langsung menjitak kepala Naruto dengan segenap tenaganya.


BLETAAKK!


"Wadaw! Sakit Teme!"kata Naruto. Ternyata Naruto hanya pura-pura terhipnotis.


"Itu salahmu sendiri," ujar Sasuke. "Aku pulang saja." Lalu Sasuke segera pergi keluar kelas.


Hinata kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Kiba masih tertawa terbahak-bahak. "Kiba, hentikan tawamu!"kata Shion. Kiba berusaha menghentikan tawanya. "Naruto, aku coba lagi ya?" Naruto mengangguk. Lalu Shion kembali melakukan seperti sebelumnya. "Kamu akan menyukai gadis yang pertama kali kamu lihat," kata Shion.


"Oy, bukannya hanya kamu gadis yang ada di sini," kata Kiba. Hinata kaget mendengar perkataan Shion, secara tidak sadar Hinata berdiri dari kursinya dan buku serta tempat pensil Hinata berjatuhan ke lantai. Naruto kaget mendengar bunyi benda-benda yang berjatuhan dan melihat Hinata. Hinata malu sendiri karena telah membuat keributan kecil.


Hinata lalu membungkuk untuk membereskan barang-barangnya, sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Saat Hinata sedang mengambil barang-barangnya sebuah tangan terjulur mengambil pulpennya. Hinata lalu melihat siap pemilik tangan tersebut, dan betapa kagetnya Hinata ternyata pemilik tangan tersebut adalah Naruto. Hinata lebih cepat membereskan barangnya. "Terima kasih," gumam Hinata.


"Sama-sama," ucap Naruto beserta senyuman. "Hinata, aku menyukaimu."
"Hah?"


"Aku menyukaimu Hinata. Maukah kamu jadi pacarku?" ucap Naruto tanpa ragu.


Hinata panik, tapi wajahnya masih menunjukan ketenangan. 'Tenang Hinata, dia hanya sedang terkena hipnotis, dia pasti bercanda.' Hinata meyakinkan pada dirisendiri. "Kau pasti bercanda Uzumaki." Hinata berucap dingin lalu segera memasukan barang-barangnya ke dalam tas dan pergi keluar kelas.
Meninggalkan Naruto yang menampakan wajah sedikit kecewa.


Hinata keluar dengan muka yang sangat merah, sampai telinganyapun ikut memerah. 'Aku tak percaya Naruto berkata seperti itu. Seandainya saja itu sungguhan aku senang sekali.'



Malam harinya Hinata tidak bisa tidur karena dia terus terpikirkan akan Naruto dan kata-katanya. Hinata baru bisa tertidur pada saat tengah malam.


Karena tidur larut, Hinata kesiangan pergi ke sekolah. "Aduh, gerbang pasti sudah di tutup jam segini. Aku harus bagaimana?" Hinata bergumam sendiri.


"Hei, Hinata!" terdengar sebuah suara yang familiar di telinga Hinata. Hinata menghentikan langkahnya dan mencari dari mana asal suara tersebut. Dia mencoba menengok ke belakang dan ke samping, tapi tak ditemukan siapapun.


"Di atas sini," kata suara itu lagi. Hinata menengok ke atas, dan dilihatnya lelaki yang dia sukai, Naruto Uzumaki sedang berdiri di atas tembik pembatas sekolah dengan lingkungan luar. "Kamu terlambat ya?"


"Iya," jawab Hinata.


"Gerbang pasti sudah di tutup, lebih baik kamu masuk lewat sini saja."


'Lewat mana? Maksudnya memanjat dinding ini? Dia pasti bercanda,' batin Hinata.


"Sudahlah, jangan terlalu lama mikir, nanti makin terlambat. Cepat naik, sini aku bantu, ulurkan tanganmu." Hinata lalu mengulurkan tangannya dan Naruto menariknya. "Ternyata kamu ringan juga ya. Nah sekarang kita loncat!" Naruto berkata dengan semangat. Hinata melempar pandangan apa-kau-serius pada Naruto. "Sudah, lompat saja, tenang aku pegang tanganmu." Ucapan Naruto bukan membuat Hinata semakin tenang malah semakin gugup, karena Naruto menggenggam tangan Hinata.
"Siap? Satu... Dua... Tiga... Loncat!"


"Kyaaa!" Hinata berteriak. Sementara Naruto hanya tertawa melihat reaksi Hinata. Akhirnya mereka mendarat. "Ayo Hinata, kita cepat ke kelas!" Naruto masih menggenggam tangan Hinata dan menariknya menuju kelas. Hinata hanya tersenyum biasa mereka hanya mengobrol
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak segera keluar dari kelas, menuju kantin atau tempat biasa mereka berkumpul bersama teman-temannya. Naruto sedang berkumpul bersama Shion, Sasuke, Sakura, dan Kiba. Seperti biasanya mereka hanya mengobrol.


"Naruto-kun, maaf aku sudah menghipnotis kamu dan membuatmu menyukai Hinata," ucap Shion.
"Oh, tidak apa-apa, lagipula aku tidak terkena hipnotis kamu kok." Tepat setelah Naruto berkata demikian Hinata berdiri di ambang pintu. Memperhatikan Naruto dari jauh.


"Eh? Jadi waktu kamu bilang kamu suka Hinata itu juga bohong?" tanya Shion. Hinata terkejut, dia tak pernah menyangka kalau Naruto hanya membodohinya. 'Seharusnya aku tahu sejak awal kalau Naruto tidak mungkin menyukaiku. Aku hanya terhanyut dan terbawa oleh Naruto, sampai-sampai aku lupa diri. Lebih baik secepatnya aku menjauhi Naruto, agar perasaan ini tidak tumbuh lebih besar dan hanya aku yang akan sakit pada akhirnya.'


"Ah... Soal itu-" Hinata masuk, perkataan Naruto terputus dengan kemunculan Hinata. Naruto tahu persis kalau Hinata pasti mendengar percakapan antara dirinya dan Shion. Dengan segera Naruto menghampiri Hinata.


"Hinata, dengarkan aku! Walaupun aku tidak terhipnotis tapi sebenarnya aku-" ucapan Naruto kembali terpotong.


"Sudah cukup Naruto. Aku tidak mau mendengar perkataanmu lagi, bahkan aku tak mau mengenalmu lagi. Aku harap kita kembali seperti dulu saja, saat di mana kamu tidak pernah mengucapkan kata suka padaku," kata Hinata. "aku tak semakin terluka," Hinata berbisik, sebelum akhirnya pergi berlari meninggalkan kelas. Naruto mengejarnya, "Hinata!"


"Naruto-kun! Kau mau ke mana? Biarkan saja dia!" Shion mencegah Naruto untuk mengejar Hinata.
"Lepaskan, Shion!" bentak Naruto.


"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MELEPASMU! AKU YANG PALING MENYUKAIMU NARUTO-KUN!" Shion balas berteriak pada Naruto dan secara tak langsung mengungkapkan perasaannya.


Nada suara Naruto melemah, "maaf Shion, tapi aku menyukai gadis lain, aku menyukai Hinata. Waktu kau hipnotis aku, aku tidak terkena hipnotismu, aku hanya menggunakan itu sebagai kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku pada Hinata. Sekarang, aku ingin meluruskan segalanya."


"Shion, lepaskan Naruto, atau kau akan tahu akibatnya." Sakura mengepalkan tangannya, mengancam Shion. Akhirnya Shion melepaskan Naruto, dan Naruto segera berlari menyusul Hinata.


"Shion, terkadang cinta itu membutuhkan pengorbanan. Mungkin Naruto bukan jodohmu." Sakura menenangkan Shion.


"Kamu tidak marah Sakura?"


"Tentu saja tidak, memang apa yang menunjukan kalau aku marah padamu?"


Pertanyaan Sakura dijwab oleh Sasuke. "Kepalan tanganmu tadi Sakura..."


Sakura tidak menanggapi Sasuke dia tetap berbicara dengan Shion. "Shion, aku punya ide bagus untuk membalas sakit hatimu. Kiba sini! Aku juga butuh bantuanmu. Sasuke jangan coba-coba menguping karena ini juga sebuah rencana untukmu fufufu..."


"Kau punya ide apa Sakura?" tanya Kiba


"Kau ke sini saja." Setelah itu mereka berdiskusi tentang sesuatu yang sangat menarik.



"Aduh... Hinata kemana sih..." Naruto mencari Hinata ke setiap sudut sekolah sampai pakaiannya basah oleh keringat, terlebih sekarang adalah musim panas, keringat Naruto mengalir lebih deras. "Kucoba cari ke taman belakang saja." Naruto kembali berlari menuju arah taman belakang. Akhirnya Naruto menemukan Hinata di sana, duduk di bawah pohon. Naruto berjalan perlahan mendekati Hinata. Hinata yang sadar akan kehadiran Naruto berdiri, hendak berlari lagi. Namun Naruto dapat segera mencegahnya.


"Hinata! Dengarkan aku! Kumohon," ucap Naruto.


Hinata memberontak, meminta Naruto melepaskannya. "Lepaskan Naruto!"


"Tidak akan sampai kau mau mendengarkanku!"


"Aku bilang lepaskan. Tanganku sakit." perlahan air mata Hinata keluar. Bukan hanya karena tangannya yang sakit tapi terlebih lagi, hatinya kini terluka, dan air mata itu adalah wujud hatinya yang terluka. Naruto kaget melihat Hinata menangis tanpa sadar Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya. Membiarkan Hinata melepaskan segala hal yang mengganjal di hatinya. Naruto memeluk Hinata semakin erat, dan tetap menunggu sampai Hinata meredakan tangisannya.


"Sudah merasa baikan?" tanya Naruto pada Hinata yang masih berada dipelukan Naruto. Hinata mengangguk. "Sudah tenang? Sekarang dengarkan aku baik-baik ya Hinata... Walaupun sejak awal aku tidak dihipnotis, aku sejak dulu menyukaimu, aku menyayangimu Hinata. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi percayalah aku tulus menyayangimu."


"A-aku juga sayang Naruto-kun, tapi aku malu untuk mengungkapkannya," ujar Hinata malu-malu. Naruto tersenyum senang dan entah sadar atau tidak sadar Naruto mencium bibir Hinata, lembut. Ciuman yang lembut dan tidak berlangsung lama.


"Na-Naruto-kun..."


"Maaf Hinata, hehe..."


"Tak apa..." Muka Hinata merah.


"Kau lucu sekali Hinata, apalagi saat kamu seperti ini, tambah lucu..." goda Naruto.


"Sudahlah Naruto-kun."


"Hei Hinata, sekarang aku benar-benar serius. Kamu mau jadi pacar aku?"


"Tentu saja aku mau." Hinata kembali ke dalam pelukan Naruto, tapi kini Hinata yang memeluk Naruto.


Fin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar