Welcome


Jumat, 04 November 2011

Bitter Sweet Lollipop - Chapter 1


Lagi-lagi buat fic baru. Tapi mau bagaimana lagi, banyak ide yang bermunculan terus, jadi, daripada dipendam aku ketik aja. Semoga suka. Dan fic ini terinspirasi dari permen lolipop kesukaanku dan dibumbui dengan banyak imajinasi. Well, karena masih awal, saya ngetiknya agak pendek. Maaf kalau kurang puas. soalnya ini masih awal pembuka.

Naruto © Masashi Kishimoto
Bitter Sweet Lollipo © Amutia Putri (Akun FFN)

"Sakura... Apa kau sudah bangun?" tanya sebuah suara yang berasal dari lantai bawah sebuah rumah yang berada di komplek perumahan Spearmint.

"Sudah Bu!" jawab Sakura dari dalam kamar. "Aku sedang membereskan barang-barangku dulu."

"Kalau sudah selesai, cepat turun. Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu," kata Ibu Sakura.

"Baik bu," jawab Sakura. Sakura lalu memasukan barang-barang yang akan ia bawa ke sekolah. "Buku pelajaran, sudah, tempat pensil, ada, baju olahraga, sudah... Apa yang kurang ya...? Ah iya, lolipop!"

Sakura lalu berjalan meninggalkan tasnya yang masih dalam keadaan terbuka menuju lemari kecil yang berada di samping tempat tidurnya. Dia mengambil sebuah toples berukuran sedang yang dibungkus oleh kain berwarna merah dan terdapat sebuah pita berwarna merah muda yang melingkari toples itu. Lalu Sakura membuka tutup toples itu dan mengambil beberapa buah lolipop.


"Hmmm... Hari ini bawa berapa ya?" tanyanya pada diri sendiri. "Ah, bawa lima saja, satu rasa stoberi, satu jeruk, satu anggur, sama dua rasa cola." Lalu Sakura mengambil lolipop dari dalam toples dan memasukannya ke dalam tas. Lalu menutup tasnya dan membawanya menuju meja makan.

"Pagi, Bu," sapa Sakura pada Ibunya.

"Pagi, sayang," balas ibunya sambil menuangkan susu kotak ke dalam gelas. "Sarapan dulu." Ibunya Sakura segera meletakan roti bakar di atas piring Sakura.

Sakura menempatkan diri di kursi yang biasa ia duduki saat makan bersama keluarganya. "Ayah kemana Bu?" tanya Sakura sambil disela-sela sarapannya.

"Ayah sudah berangkat tadi, ada operasi, katanya, Ayahmu menggantikan dokter yang harusnya dinas pagi hari ini. Dasar, ayahmu itu terlalu baik," keluh Ibu Sakura.

"Tapi, Ibu suka kan sama Ayah..." Goda Sakura pada Ibunya.

"Huss... Kamu ini. Sudah-sudah lebih baik kamu cepat habiskan sarapanmu, lalu berangkat, nanti kamu terlambat."

Sakura menghabiskan suapan terakhir roti bakarnya dan meminum habis susu rasa vanila yang telah disediakan ibunya. "Kalau begitu aku berangkat dulu, Bu," pamit Sakura.

"Iya, hati-hati, sayang."

"Sakura!" sapa seorang gadis berambut pirang.

"Hai, Ino," balas Sakura.

"Sakura, aku sudah jadian dengan Sai, looo..."

"Terus? Apa hubungannya denganku?" jawab Sakura jutek.

"Kau ini jutek sekali siiih~" Ino memasang wajah tidak suka pada Sakura.

"Ya, kau sudah tahu kalau aku seperti ini. Kadang peduli kadang juga tidak."

"Haaa... Pantas saja kau tidak punya pacar," ujar Ino sambil duduk di kursi sebelah Sakura, yang memang itu adalah tempat duduknya.

"Apa hubungannya dengan itu?"

"Sudah, lupakan saja. Bawa lolipop nggak? Biasanya kau bawa."

"Bawa, kau mau?" tawar Sakura pada Ino. Ino mengangguk antusias. Sakura mengambil sebuah lolipop rasa anggur dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada Ino.

"Nih. Rasa anggur."

"Thank's Sakura," ucap Ino. Kemudian dia membuka bungkus lolipop itu dan memakan loliponya.

"Hei, Sakura. Kau sedang menyukai seseorang tidak?" tanya Ino.

"Hm? Kenapa memangnya?" Sakura balik tanya.

"Hanya ingin tahu saja? Jadi, pasti ada kan? Beritahu aku."

"Mungkin... Aku tertarik pada Sasuke Uchiha," jawab Sakura sambil menempelkan telunjuknya pada dagunya. Lalu tersenyum pada Ino.

"Haaa... Kau pasti bercanda. Memang sih dia itu tampan, tapi liat dong kelakuannya. Suka mainin perempuan, dan juga suka ngerokok. Ih, aku sih malas berurusan dengan dia. Sekalipun dia anak orang kaya, tampan, juga pintar. Tapi, kalau kelakuannya kayak gitu sih, ogah! Lagipula, bukannya kamu benci sama perokok, bahkan kamu anti banget sama yang namanya perokok."

"Aku bilang hanya tertarik, bukannya aku ingin jadi pacarnya atau menjadikannya pacarku." Sakura menghela napas. "Lagipula, aku ini orangnya serba ingin tahu. Mungkin saja aku bisa dekat dengan Sasuke dan bisa menghentikan kebiasaannya merokok," ujar Sakura percaya diri.

"Percaya diri sekali kamu," Ino mencibir Sakura. "Lagipula, apa kau bisa mendekati Sasuke sementara dia selalu dikerubuni oleh mereka." Ino menunjuk pada koridor yang terlihat dari jendela kelas mereka. Di sana terlihat seorang lelaki berambut raven yang sedang dikerubuni banyak gadis. Lelaki itu hanya cuek saja, kalau dilihat dari wajahnya.

"Dia itu tenang sekali, atau bisa dibilang jutek," kata Ino sambil memandang keluar jendela kelas yang terhubung dengan koridor. "Aku tak yakin kau bisa dekat dengannya."

"Mau bertaruh?" ujar Sakura dengan senyuman jahil.

"Boleh. Apa taruhannya?" ujar Ino menantang balik Sakura.

"Novel terbitan terbaru. Bagaimana?"

"Setuju."

"Tengat waktunya?"

"Sampai musim dingin tiba?"

"Setuju." Lalu mereka berjabat tangan.

"Sakura, ayo ganti baju. Sekarang pelajaran olah raga," ajak Ino pada Sakura.

"Tunggu sebentar," ujar Sakura sambil mengambil baju olah raganya. "Ayo!"

"Guy-sensei katanya tidak ada, jadi kita hanya main basket di gedung olahraga," ujar Ino. Sakura dan Ino sudah ganti baju dan sekarang sedang berjalan menuju gedung olah raga.

"Hmmm... Bagus deh. Aku lagi malas olah raga. Dan pastinya lapangan akan dipakai oleh anak laki-laki," ujar Sakura sambil mengikat rambut pink-nya yang panjang.

"Yah... Mereka terlalu bersemangat saat olah raga. Tapi, kita bisa melihat penampilan Sasuke yang keren saat main basket."

"Katanya kau tidak suka?"

"Yah, kalau ada pemandangan yang bagus, kenapa tidak?"

"Dasar," desis Sakura.

Mereka telah sampai di dalam gedung olah raga, dan benar saja anak laki-laki menguasai lapang, sementara anak perempuan hanya menonton di pinggir lapangan. Kebanyakan dari mereka tentu menyorakan nama Sasuke.

"Hhh... Berisik sekali," ujar Sakura sambil berjalan mengitari pinggir lapang, mencari tempat kosong dan jauh dari kerumunan siswi-siswi, diikuti oleh Ino di belakangnya.

"Naruto! Terima bolanya!" ujar Sasuke pada seorang lelaki berambut spike berwarna kuning, bernama Naruto. Tapi sepertinya, refleks Naruto kurang cepat dan...

"Sakura! Awas!" jerit Ino. Tapi, telambat, bola basket itu sudah mengenai kepala Sakura. Alhasil, Sakura pun terjatuh.

"Sakura!" Ino berlari menghampiri Sakura yang terjatuh. "Kau tidak apa-apa?" Sakura masih diam, tangannya memegang kepalanya yang tentu saja sangat sakit.

"Teme! Bantu dia!" ujar Naruto pada Sasuke. Sasuke hanya mengikuti Naruto yang sudah berlari menuju Sakura. "Hei, Sasuke! Kau harus tanggung jawab."

"Kenapa aku?" tanya Sasuke pada Naruto.

"Karena kau yang melempar bolanya," tuduh Naruto. Sasuke hanya pasrah dan menghampiri Sakura.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Sasuke sambil jongkok, menghadap ke Sakura.

"Pertanyaan bodoh," kata Sakura. Sasuke kaget mendengar jawaban dari Sakura. Ino hanya membatin, 'katanya ingin dekat dengan Sasuke, malah kayak yang dendam gini, dasar Sakura.'

"Tentu saja aku sakit, kalau kau ingin tahu, silahkan suruh temanmu untuk melemparkan bola basket ke arahmu, dan rasakan sakitnya," ujar Sakura sinis.

"Aku tanya baik-baik malah marah," ucap Sasuke.

"Tentu saja aku berhak marah. Sekarang kau harus tanggung jawab! Bawa aku ke ruang kesehatan!" perintah Sakura pada Sasuke. Sasuke hanya mendelik, tapi tidak bisa menolak. Sasuke lalu mengulurkan tangannya pada Sakura dan disambut oleh Sakura. Lalu Sasuke dan Sakura pergi menuju ruang kesehatan diiringi tatapan dari banyak orang.

"Sepertinya perawatnya sedang tidak ada," kata Sasuke sesampainya mereka di ruang kesehatan. Sakura membaringkan diri di atas ranjang yang ada di sana. "Sebaiknya aku cari perawat dulu," kata Sasuke dan hendak pergi tapi ditahan oleh Sakura.

"Tidak perlu, sebaiknya kau bawakan aku es dan plastik untukku. Es-nya ada di kulkas dan plastiknya ada di atas kulkas. Sasuke hanya mengikuti perintah Sakura.

Sasuke lalu membungkuskan beberapa buah balok kecil es ke dalam plastik dan diberikan pada Sakura. "Thank's," kata Sakura, lalu menempelkan plastik itu ke kepalanya.

"Aku pergi. Sepertinya kau sudah membaik," kata Sasuke.

"Tidak bisa, kau harus tanggung jawab," ujar Sakura menahan kepergian Sasuke.

"Bukannya aku sudah tanggung jawab?"

"Hmmm... Tidak, kau masih punya satu tanggung jawab, Uchiha-san." ujar Sakura dengan senyuman licik. Sasuke hanya menelan ludah melihat senyuman Sakura itu.

T.B.C

Wahahaha... ketawa nista. Bikin fic-nya diburu-buru sama mamah, maaf kalo abal
Kritik dan Sarannya dong...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar