Welcome


Jumat, 04 November 2011

Bitter Sweet Lollipop - Chapter 2


Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Bitter Sweet Lollipop © Amutia Putri (a.k.a Aku sendiri)
Warning: AU dan OOC

Sakura masih tersenyum ke arah Sasuke, yang sepertinya mengeluarkan keringan dingin, tapi ekspresi mukanya kembali datar. Sasuke membalas tatapan Sakura, seperti ingin mengetahui apa sisa dari tanggung jawabnya.


"Nah, Uchiha-san," Sakura turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Sasuke. "Kau harus tanggung jawab atas perbuatanmu," ucap Sakura. Wajah Sakura ada di depan wajah Sasuke dan dekat, walaupun tidak tepat berada di depan karena Sasuke lebih tinggi daripada Sakura.


Sasuke mundur satu langkah. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya sambil memandang Sakura. Dalam kata-katanya terdengar nada tegas.


"Hmmm..." Sakura tersenyum kembali, lalu sedikit berjinjit, dan mendekatkan wajahnya ke telinga Sasuke. 
"Fuuuh..." Sakura meniup telinga Sasuke. Sasuke secara refleks segera menjauh dari Sakura sambil memegang telinga kirinya dan wajahnya sedikit memerah. Sakura hanya tersenyum melihatnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke sedikit membentak pada Sakura.


"Cuma iseng saja," jawab Sakura santai. "Nah, aku ingin kamu, Uchiha-san, selama satu minggu ini, kamu harus makan siang denganku."



"Kenapa aku harus? Kamu bukan siapa-siapa untukku," jawab Sasuke sinis.


"Karena itu bentuk tanggung jawabmu Uchiha-san." Sakura berbalik membelakangi Sasuke, kemudian berjalan ke arah meja yang ada di sebelah kulkas dan mengambil sebuah gelas. Membuka pintu kulkas dan mengeluarkan sebuah botol dari dalam kulkas, lalu menuangkan isinya ke dalam gelas. Sasuke hanya memperhatikan kegiatan Sakura dalam diam. Sakura lalu berjalan kembali ke arah Sasuke.


"Nih, untukmu," kata Sakura sambil menawarkan segelas air dingin pada Sasuke. Sasuke memandangnya dengan heran.


"Kau pasti capek dan haus kan, sehabis olah raga? Dan hari ini juga sangat panas, ya maklum, lagi musim panas. Jadi, mau nggak airnya? Kalau nggak aku minum sendiri nih." Sakura mulai kesal sendiri karena harus menjelaskan panjang lebar pada Sasuke.


"Iya, aku mau." Lalu Sasuke mengambil gelas berisi air dingin dari tangan Sakura, dan menegak habis airnya. "Thank's. Nama kamu?"


Mengerti akan pertanyaan Sasuke, Sakurapun menjawab, "Sakura, Haruno Sakura. Aku sekelas denganmu, tapi aku tahu, kau orangnya cuek. Jadi kau pasti tidak mengenalku."


"Ya, begitulah." Sasuke lalu menyimpan gelas kosong yang ada di tangannya ke atas meja yang ada di dekatnya.


"Nah, Uchiha-san, kau sudah janji akan menemaniku makan siang selama satu minggu ini, jadi mulai hari ini sampai selanjutnya kau harus makan siang bersamaku," ujar Sakura sambil berjalan menuju pintu, lalu berbalik menghadap Sasuke. "Ah, iya, satu hal lagi, nanti kita makan siang di atap saja." Setelah berkata seperti itu Sakura keluar dari ruang kesehatan dan menutup pintunya.


"Arrrggghhh... Kenapa aku menuruti perkataan orang itu!" Sasuke menggeram kesal sambil mengacak-acak rambutnya, frustasi. "Cih, semoga saja dia tidak merencanakan hal yang aneh-aneh." Kemudian Sasuke keluar dari ruang kesehatan. Dia membuka pintu dan terkejut melihat seseorang yang ada di balik pintu itu. "Haruno Sakura," desisnya pelan.


"Tenang saja Uchiha-san, aku tidak merencanakan hal yang aneh-aneh kok." Setelah berkata seperti itu Sakura lalu pergi dari tempat itu, meninggalkan Sasuke yang sedang terdiam. Terdengar suara tawa Sakura yang menggema di lorong sekolah yang sepi. "Ck, sial," umpat Sasuke kesal.

"Hei Sakura, kau sudah baikan?" tanya Ino pada Sakura setelah mereka selesai ganti baju dan kembali ke dalam kelas.


"Sudah..." jawab Sakura sambil tersenyum gembira.


"Hey, ada apa ini? Sepertinya kamu senang sekali?" tanya Ino penasaran.


"Ra-ha-si-a," jawab Sakura dengan seringai jahil.


"Sakuraaa... Aku ingin tahu apa yang terjadi denganmu dan Uchiha Sasuke itu." rengek Ino. "Kalau begitu aku ganti tengat waktu kau harus dekat dengan Sasuke dari awal musim dingin menjadi tepat di hari ulang tahunnya. Lagipula kalau menunggu awal musim dingin terlalu lama."


"Hump... Boleh saja. Kapan ulang tahun dia?"


"23 Juli."


"Wahwah... Sepertinya aku harus gerak cepat nih."


"Hehe... Memang itu tujuanku. Walaupun taruhan kita hanya sebuah novel yang dapat kita beli dengan uang sendiri sih, tapi taruhan seperti ini kadang menyenangkan."


Sakura mengangguk setuju. "Oh, iya. Nanti siang aku tidak bisa makan siang denganmu," kata Sakura
"Kenapa?" tanya Ino ingin tahu. Sakura hanya tersenyum. "Rahasia lagi? Terserah deh."

Bel waktu makan siang telah berbunyi, Sakura segera mengambil kotak makan siangnya dan pergi menuju atap sekolah. Tapi, sebelum keluar kelas Sakura dihentikan oleh Ino.


"Kau makan siang dimana? Kulihat Uchiha masih di dalam kelas," ujar Ino yang sedang membuka kotak makan siangnya.


"Kamu mau tahu saja," jawab Sakura dengan senyuman jahil dan sedikit nada gembira. Sesaat dia melihat ke arah meja Sasuke yang ada di pojok kelas. "Biar saja kalau dia masih di kelas, lagipula aku ingin beli minuman dulu. Selamat menikmati makananmu, kalau begitu?"


"Yeah... Aku akan bergabung dengan Hinata saja kalau begitu." Lalu Ino beranjak dari kursinya sambil membawa kotak makannya dan berjalan menuju tempat Hinata yang ada di tengah kelas. Sementara Sakura berjalan keluar kelas untuk membeli minuman.


Sakura sudah sampai di kantin sekolah yang sangat ramai saat jam makan siang. Tanpa mempedulikan orang lain, Sakura segera berjalan ke tempat pemesanan makanan dan minuman.


'Aku beli apa ya... Aku tidak tahu minuman kesukaan Sasuke,' batin Sakura. 'Coba aku tanya dulu apa yang masih ada, biasanya banyak yang sudah habis.'


Sakurapun bertanya pada penjual di sana. "Permisi, jus yang masih ada apa saja ya?"


"Ah, kami hanya punya tomat saja, yang lain sudah habis dibeli," jawab penjual itu.


'Rakus sekali anak-anak di sini,' ucap Sakura dalam hati. "Kalau begitu aku pesan jus tomatnya dua, dan es-nya jangan terlalu banyak," ucap Sakura pada sang penjual sambil memberikan uang untuk membayar jus tomat.


"Baiklah, tunggu sebentar." Pelayan itupun pergi dari hadapan Sakura untuk membuat pesanan Sakura. Tidak berapa lama, penjual itu kembali dengan pesanan Sakura, jus tomat, yang ada di gelas plastik. "Silahkan," ucap penjual itu.


"Terima kasih." Lalu Sakura pergi dari kantin dan berjalan menuju atap sekolah.


"Aduh... Ribet juga bawanya," gerutu Sakura saat menaiki tangga menuju atap sekolah sambil membawa dua gelas jus tomat dan kotak makan siangnya. Terdengar suara langkah seseorang yang menuruni tangga dengan cepat. Sakura melihat seorang gadis menuruni tangga dengan wajah memerah dan matanya mengeluarkan cairan bening, airmata.


'Menangis... Kenapa anak itu menangis?' tanya Sakura dalam hati. Gadis itu melewati Sakura dan hampir saja menabrak Sakura. Sakura sedikit oleng, tapi untung saja dia dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dan tidak menjatuhkan barang-barang yang dibawanya. "Aduh! Nggak bisa liat jalan apa?" gerutu Sakura setelah gadis tadi pergi menuruni tangga dan melewati dirinya. "Untung saja kotak makanku tidak jatuh dan minumannya tidak tumpah." Sakura masih menggerutu saat dia sudah membuka pintu yang menghubungkan tangga dengan atap sekolah.


Angin musim panas menyambut Sakura saat dia sampai di atap. Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan dia menemukan sosok itu. Seorang lelaki muda yang tampan, Uchiha Sasuke. Sakura segera menghampiri Sasuke yang sedang duduk sambil bersandar pada tembok pembatas.


"Datang juga," kata Sakura yang sudah berdiri di depan Sasuke. Sasuke menegakan pandangannya untuk melihat Sakura, lalu kembali lagi meluruskan pandangannya seperti semula. Tanpa menunggu persetujuan Sasuke, Sakura menempatkan dirinya di sebelah Sasuke.


"Apa yang kau lakukan terhadap gadis tadi?" tanya Sakura langsung.


Sasuke yang mengerti akan pertanyaan Sakura menjawab, "aku tidak melakukan apa-apa."


"Kalau kau tidak melakukan apa-apa, kenapa anak itu menangis?" tanya Sakura lagi sambil membuka kotak makan siangnya dan meletakannnya di pangkuan.


"Aku hanya menolak pernyataan cintanya," jawab Sasuke sambil menerawang memperhatikan langit musim panas yang biru dan cerah.


"Begitu..." gumam Sakura. "Suka jus tomat?"


"Suka."


"Kalau begitu, ini untukmu. Tadinya aku ingin membeli jus lain, tapi yang tersisa hanya jus tomat saja. Tapi lumayan enak dan segar juga," ujar Sakura sambil menyerahkan gelas plastik yang berisi jus tomat pada Sasuke, lalu meminum jus tomat miliknya sendiri. Sasuke hanya bergumam menyetujui perkataan Sakura. Sakura lalu meletakan jus tomat yang tadi ia minum dan mulai memakan bekalnya.


"Apa itu onigiri?" tanya Sasuke sambil melirik bekal makanan Sakura.


"Iya, kau mau?" Sakura menawarkan bekalnya pada Sasuke dan Sasuke langsung mengambil sebuah onigiri.
"Terima kasih. Aku suka onigiri," kata Sasuke tanpa sadar.


"Wah, aku baru tahu kalau kamu suka onigiri. Kenapa kau tidak minta ibumu untuk membuatkan onigiri untuk bekal makan siangmu?"


Sasuke mengunyah onigiri yang ada di dalam mulutnya lalu menelnnya sebelum menjawab pertanyaan Sakura. "Itu tidak mungkin," jawab Sasuke sambil menatap langit.


"Kok tidak mungkin? tanya Sakura heran. Lalu dia meminum jus tomatnya dan menyerahkan sehelai tisu pada Sasuke.


Sasuke menerima tisu dari Sakura lalu mengelap bibir dan tangannya dengan tisu itu, meminum sedikit jus tomatnya lalu menjawab. "Ibuku terlalu sibuk untuk mengurusku," jawab Sasuke datar, tapi ada sedikit nada penyesalan. Sasuke lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan korek dari sakunya dan mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Sakura yang sedang membereskan kotak bekalnya terbelalak melihat kegiatan Sasuke. Secara reflek, Sakura mengambil bungkus rokok, korek, dan rokok yang sedang Sasuke hisap.


"Hei! Apa-apaan kamu!" kata Sasuke sedikit membentak, pertanda tidak suka dengam perlakuan Sakura.
"Kau yang apa-apaan! Masih muda sudah ngerokok. Mau memperpendek nyawamu hah?" Sakura berbalik membentak pada Sasuke.


"Itu bukan urusanmu!"


"Tapi aku peduli padamu! Daripada kamu merokok, lebih baik kamu makan saja ini!" Sakura menunjukan sebuah lolipop rasa jeruk di depan wajah Sasuke.


"Kau pasti bercanda ka- hump..." Sakura langsung memasukan lolipop yang sudah ia buka pembungkusnya ke dalam mulut Sasuke.


"Nah, aku sita rokok dan korekmu ya," kata Sakura sambil membuka pembungkus lolipop rasa stobeinya, lalu memakan permen itu dan berjalan menuju pintu. "Sebagai gantinya, kau makan saja lolipop itu. Rasanya enak kok." Lalu Sakura menghilang di balik pintu, dan Sasuke masih memperhatikan tempat di mana Sakura hilang dari hadapannya.


"Dasar. Cewek itu selalu seenaknya saja," ujar Sasuke. Tapi dia tetap memakan lolipop dari Sakura, walaupun sedikit menggerutu.


To Be Continue...

Aaaahhh... Maafkan saya yang updatenya mungkin lama, dan ficnya nggak panjang seperti yang diminta. Pikiran saya mentok sampai sana *nunjuk-nunjuk ending*
Soalnya saya setiap buat fic nggak pernah dikonsep dulu, langsung tulis aja. hehe..
Oh iya, terimakasih bagi yang sudah meng-fav fic ini dan alert-nya juga ^^
Review lagi? Kritik dan Saran sangat diharapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar