Welcome


Rabu, 14 Desember 2011

Bitter Sweet Lollipop Chapter 3

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Bitter Sweet Lollipop © Amutia Putri
Warning: AU, OOC, Typo(s)

Sinar mentari pagi masuk melalui celah gorden, menyinari sebuah kamar yang bernuansa pink, dan membuat seseorang yang sedang tertidur dengan nyenyaknya terbangun. Gadis itu menggeliat di bawah selimutnya yang bermotif bunga cosmos. Gadis itu lalu duduk di atas tempat tidurnya menyingkapkan selimut dan menguap lalu mengusap matanya. Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang sudah cukup berumur.

"Sakura, kau sudah bangun?" tanya laki-laki itu lalu berjalan ke arah jendela yang ditutupi gorden, mengeserkan gorden itu ke setiap sisi, dan membuka jendela.

"Silau," ujar Sakura dengan suara yang agak serak. Lalu ayah Sakura menghampirinya dan memberikan segelas air putih pada anaknya.

"Minum dulu." Sakura menghabiskan segelas penuh air putih yang diberikan ayahnya. "Sebaiknya kamu segera mandi, ayah dan ibu menunggu di bawah."


"Baik..." Sakura lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah gontai. Ayahnya hanya tersenyum melihat kelakuan putri semata wayangnya, lalu beranjak dari kamar Sakura.
Sakura sudah selesai mandi dan berseragam. Kemudian ia turun untuk sarapan bersama ayah dan ibunya. Sebelumnya Sakura membereskan tempat tidurnya dan mengecek kembali barang bawaannya.

"Pagi ayah, pagi ibu," sapa Sakura pada kedua orang tuanya.

"Pagi," jawab ibu Sakura yang sedang menyiapkan sarapan.

"Pagi juga," balas ayah Sakura sambil membaca koran paginya.

"Ibu, aku ingin bekal onigiri lagi, boleh?" tanya Sakura sambil menghampiri Ibunya yang sedang merapikan piring.

"Boleh saja, tapi kau bantu ibu membuatnya," jawab ibu Sakura. "Oh, iya, ibu juga membuatkan anmitsu untukmu."

"Ibu tahu saja kesukaanku, terima kasih Bu."

"Sama-sama sayang. Sekarang kamu sarapan dulu lalu berangkat sekolah." Nasehat ibu Sakura. Sakura lalu duduk di kursi dekat ayahnya, tempat ia biasa duduk menikmati makan.

"Ada berita apa Yah?" tanya Sakura sambil memperhatikan ayahnya yang serius membaca koran. Ayahnya lalu melipat korannya dan menatap Sakura.

"Tidak ada yang menarik, kebanyakan masalah politik," jawab Ayah Sakura sambil menyeruput teh miliknya. Sakura hanya bergumam lalu meminum susu coklatnya, kemudian memakan roti bakar yang masih hangat.

"Sakura, katanya mau membantu Ibu membuat onigiri, kenapa malah asyik mengobrol dengan Ayah?" tanya Ibu Sakura yang sedang membuat onigiri untuk bekal Sakura. Sakura segera mengalihkan perhatiannya pada ibunya.

"Hehe... Maaf Bu. Sini Sakura bantu." Lalu Sakura dengan cepat membantu ibunya membuat onigiri.

"Jam berapa sekarang?" gumam Sakura pada dirinya sendiri. Lalu dia melirik jam yang bertengger di dinding ruang keluarga yang terlihat dari dapur yang merangkap tempat makan. "Hah! Jam delapan kurang sepuluh menit! Ibu, aku bisa terlambat!" Sakura panik sendiri, kedua orangtuanya hanya diam melihat tingkah laku anak semata wayang mereka.

"Aduuh... Kamu jangan panik, sekarang kamu cuci tangan dan segera pakai sepatu, biar ibu saja yang membereskan nanti," ujar ibu Sakura lembut.

"Terima kasih ya Bu." Sakura mengambil kotak makan siangnya dan satu kotak yang berisi onigiri, lalu memasukannya ke dalam tas, kemudian Sakura mencuci tangannya. "Ayah... Bisa antar aku tidak? Aku takut terlambat..." ujar Sakura memelas.

"Maaf Sakura, mobil ayah sedang ada di bengkel, jadi tidak bisa mengantar kamu." Jawaban ayah Sakura sukses membuat Sakura lemas sekaligus tegang. Dengan cepat dia menyambar tasnya dan segera berlari menuju pintu depan, mengambil sepatu yang ada di rak sepatu di samping pintu dan memakainya dengan tergesa-gesa. 'Untung saja sepatunya tidak ada talinya,' batin Sakura dengan sedikit helaan napas lega.

"Ayah! Ibu! Aku berangkat dulu!" Ujar Sakura saat membuka pintu dan langsung pergi tanpa mendengar balasan dari orangtuanya.

Sakura berjalan dengan tergesa-gesa, dan melirik jam tangan yang ia pakai berulang kali sambil bergumam aku terlambat, aku terlambat. Saat Sakura sampai di dekat perempatan, tiba-tiba sebuah motor yang melaju dengan kecepatan yang lumayan cepat hampir dan menyerempet Sakura.

"Hei!" Pekik Sakura kaget sekaligus marah.

Pengendara motor itu berhenti tidak jauh dari tempat Sakura terjatuh. Sakura melihat pengendara motor itu. Seorang laki-laki memakai seragam sekolah yang sama dengannya, hanya saja orang itu memakai celana panjang. Lelaki itu membuka helm yang ia pakai dan berjalan menghampiri Sakura yang masih duduk.

"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu. Sakura langsung menegakan kepalanya dan hendak memarahi laki-laki itu. Tapi, tertahan saat melihat siapa orang yang telah menyerempetnya.

"U-Uchiha-san?"

"Hn? Ternyata kau," ujar Sasuke sambil melihat Sakura. "Mau sampai kapan duduk di situ?" ujar Sasuke lalu terkekeh pelan.

"Ini salah siapa? Bantu aku berdiri!" perintah Sakura. Sasuke lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura. "Terima kasih."

"Masih marah? Maaf deh..."

"Iya." jawab Sakura dengan penekanan. Sakura lalu melirik jam yang melingkat di tangannya, pukul 07.55. Mata Sakura membulat. "Hwaaa...! Aku bisa terlambat! Naik bis pun nggak akan sempat." Sakura panik sendiri. Sasuke hanya memperhatikan Sakura dengan sedikit menahan tawanya. Entah mengapa Sasuke merasa selalu ingin tersenyum maupun tertawa saat ada di dekat Sakura.

"Kalau kau tetap panik, kau akan makin terlambat ke sekolah," kata Sasuke datar.

"Terus aku harus bagaimana?" tanya Sakura dengan wajah memelas.

"Naik motor denganku."

"Bener?" tanya Sakura. Sasuke mengangguk. "Yey! 'Makasih banyak Sasukeee!" ujar Sakura girang.

"Sasuke?" ujar Sasuke dengan nada heran.

"Eh, maaf, refleks." ucap Sakura salah tingkah.

"Aku sih tak masalah kalau kamu ingin memanggilku Sasuke, asal tidak pakai embel-embel 'kun' aku tidak suka dengan itu." ucap Sasuke sambil memakai helmnya dan menstater motornya.

"Okeee..." jawab Sakura lalu naik ke atas motornya Sasuke. "Sasuke?" Sakura sedikit menjulurkan kepalanya ke depan di atas pundak Sasuke

"Hn?"

"Tidak jadi." Sakura kembali pada posisinya semula. Tak ada lagi percakapan di antara mereka, hanya suara mesin motor Sasuke yang terdengar sepanjang perjalanan mereka ke sekolah.

Sasuke dan Sakura telah sampai di tempat parkir sekolah. Mereka berdua bergegas lari menuju kelas mereka. Suara derap kaki mereka menggema di lorong sekolah yang sudah sepi. "Sepertinya bel sudah lama berbunyi, tidak ada orang di luar kelas," ujar Sakura memperlambat laju larinya, dan Sasuke mengikuti Sakura.

"Kau benar, sebaiknya kita juga cepat," kata Sasuke, bersiap berlari kembali.

"Jangan lari! Aku nggak mau menarik perhatian anak-anak lain."

"Ya, terserah kamu," jawab Sasuke sambil mengangkat bahu. "Tapi, jalannya cepat."

"Iya, ini juga lagi jalan."

Mereka sudah sampai di depan pintu kelas mereka yang tertutup. "Menurutmu sudah ada guru?" bisik Sakura pada Sasuke yang berdiri di sebelahnya.

"Sepertinya ada, mau masuk?"

Sakura menelan ludah, kemudian menjawab. "Apa ada pilihan lain selain itu?" Sasuke menggeleng. Sakura menghembuskan napasnya dan mulai meraih gagang pintu. Digesernya pintu itu dan hal pertama yang dilihat oleh Sasuke dan Sakura adalah guru mereka. Seorang guru dengan raut wajah datar dan sedikit terlihat malas dengan rambut berwarna perak yang melawan gravitasi.

Guru itu melihat ke arah Sasuke dan Sakura berdiri, lalu berkata, "Ah... kalian sedikit terlambat, Uchiha-san dan Haruno-san."

"Maaf Kakashi-sensei," ujar Sakura sedikit tertunduk.

"Maaf sensei." Sasuke urut berucap.

"Ya, tidak apa-apa, lagipula kalian murid yang pandai dan baru kali ini terlambat jadi saya maafkan. Semoga saja kalian tidak akan sering datang terlambat." Nasehat Kakashi yang dibalas dengan anggukan dari Sasuke dan Sakura. "Nah, kalian berdua boleh duduk."

Keduanya segera berjalan menuju tempatnya masing-masing. tempat duduk Sasuke ada di pojok kelas dekat jendela, sedangkan tempat duduk Sakura ada di barisan ke dua dari depan dan berjarak satu jajaran dari jendela.

"Hei, kenapa kau terlambat?" tanya Ino yang berada di belakang Sakura.

Sakura menjawab tanpa menoleh ke arah Ino sambil mengeluarkan buku-bukunya. "Aku membantu ibu membuat makan siang dan aku lupa waktu."

"Kenapa kau bisa bersama Sasuke?" tanya Ino lagi.

Sakura menghela napas, "Tadi bertemu di jalan. Nanti saja ngobrolnya, aku tidak mau dimarahi lagi."
"Baiklah..." jawab Ino.


"Ino..." kata Sakura, tetapi langsung dipotong Ino.

"Aku sudah tahu, makan siang sama 'orang itu' kan? Sudah pergi saja, aku ada urusan juga kok." Mendengar penuturan Ino, Sakura hanya tersenyum. "Ah, aku rasa taruhan itu sudah tidak berlaku, nanti besok aku bawakan novelnya," ujar Ino. Sakura hanya tersenyum.

Sakura berjalan di sepanjang koridor sambil bersenandung riang. "Kok aku senang gini ya, aneh." gumam Sakura pada dirinya sendiri. Sekarang dia sedang menaiki tangga menuju atap tempat makan siang Sakura baru-baru ini.

'Sasuke bakal suka nggak ya sama bekal ini?' Sakura membatin sendiri sembari berdiri di depan pintu menuju atap. 'Kenapa aku jadi kayak gini sih?' Wajahnya mulai menampakan perasaan gelisah. Sakura menghirup udara banyak-banyak sampai memenuhi kapasitas total paru-parunya dan menghembuskannya. Kemudian dia meraih gagang pintu itu dan membukanya.

Baru saja dua langkah Sakura berjalan, dia mendengar suara perempuan dari sebelah pojok kanan. 'Siapa ya?' tanya Sakura pada dirinya sendiri, tanpa mengeluarkan suara. Sakura coba mengintip dari balik tembok yang merupakan bagian dari bangunan kecil tempat pintu masuk atap berada. Sakura sedikit mencondongkan kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara.

"Sasuke, aku suka kamu!" ujar seorang gadis berambut coklat pendek. Di hadapannya berdiri Sasuke yang memasukan kedua pergelangan tangannya ke dalam saku celana yang ia pakai. Kemudian membalas pernyataan gadis itu. "Maaf, aku tidak menyukaimu," jawabnya dingin.

'Sasuke tetap dingin walaupun ada yang menyatakan perasaan padanya," batin Sakura sambil terus memperhatikan kedua orang itu.

Gadis berambut coklat itu memperlihatkan wajah kecewa, lalu menunduk, selang beberapa detik kembali menatap Sasuke. "Kau bisa mulai menyukaiku kan? Beri aku kesempatan," ujar gadis itu.

Sasuke masih memasang wajah datar pada gadis itu, sejurus kemudian sebuah seringai terlukis di bibirnya. Sasuke maju selangkah mendekati gadis itu, gadis itu terkejut dan terlihat takut, dengan segera menundukan wajahnya. "Heh, kau pikir mudah untuk menyukai seseorang? Jangan mimpi! Kau malah membuatku membencimu," ujar Sasuke kasar. Gadis itu semakin menundukan kepalanya, menahan tangisan. Sakura yang melihatnyapun kaget, tidak pernah dia melihat Sasuke seperti ini.

Sepertinya sang gadis sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi dia segera berlari dari hadapan Sasuke. Sakura panik sendiri karena takut ketahuan kalau dia menguping. Sakura segera berlari ke arah sebaiknya dari tempat gadis itu datang dan menyenderkan punggungnya pada tembok putih, lalu menghela napas. Setelah gadis itu pergi Sakura dengan perlahan menghampiri Sasuke.

"Sasuke..." panggil Sakura saat dia sudah ada di dekat Sasuke. Sasuke sedang bersandar pada pagar tembok pembatas sambil melihat ke atas. 'Lagi-lagi melihat ke atas,' batin Sakura.

Sakura lalu menempatkan diri di samping Sasuke dan mulai membuka kotak makan siangnya. "Kamu mau makan tidak? Aku membuat onigiri," tawar Sakura sambil melihat Sasuke. Sasuke lalu duduk di sebelah Sakura, mengambil sebuah onigiri dan memakannya. Mereka berdua makan dalam diam.

Sasuke memakan habis semua onigiri yang Sakura bawa dan Sakura hanya makan sebuah. Lalu Sakura membuka kotak makan siang berukuran kecil yang berisi anmitsu.

"Apa itu?" tanya Sasuke sambil melirik kotak makan yang baru saja Sakura buka.

"Oh, ini anmitsu, makanan kesukaan aku," jawab Sakura sambil mulai memakan anmitsunya. "Kau mau?" tawar Sakura sambil menyodorkan kotak bekal yang berisi anmitsu.

Sasuke menggeleng. "Tidak, terima kasih, aku tidak terlalu suka makanan manis," ujar Sasuke.

"Oh, begitu," tanggap Sakura. Kemudian dia menyeringai jahil. "Sasuke, ada nasi di bibirmu," kata Sakura sambil menunjuk bibir Sasuke. Sasuke meraba bibirnya untuk mencari nasi yang menempel itu.
"Mana?" tanya Sasuke.

"Sini, dekatkan wajahmu," kata Sakura, Sasuke hanya menurut saja. "Coba buka mulutmu," dan Sasuke membuka mulutnya. Dengan segera Sakura menyuapkan satu sendok berisi anmitsu ke dalam mulut Sasuke. Sasuke sedikit tersedak karena terkejut, tapi langsung bisa ia kendalikan. Ia kunyah makanan itu lalu menelannya. Lalu menatap Sakura tajam.

"Kau..." geram Sasuke. Sakura hanya cengengesan.

"Hehe... Maaf Sasuke, habis entah mengapa aku ingin menjahilimu," ujar Sakura.

"Dari awal aku tahu kamu, kamu memang sudah punya niat untuk menjahiliku."

"Hahaha... Padahal aku jarang sekali berbuat seperti ini," jawab Sakura. Sasuke memandang Sakura sesaat lalu mengalihkan perhatiannya ke atas, memandang langit musim panas yang cerah.

Sakura memakan makanannya dengan tenang, terkadang melirik Sasuke. "Sasuke, mau lolipop nggak? Aku bawa yang rasa kola, tidak terlalu manis, daripada kau bengong saja, dan daripada kau merokok juga. Kau tidak bawa rokok lagi kan?"

Sasuke menghela napas, lalu menjawab, "aku tidak membawa rokok ke sekolah, nanti diambil lagi sama kamu, mana lolipopnya?"

Sakura lalu mengeluarkan sebuah lolipop rasa kola dan memberikannya pada Sasuke. Sakura sendiri mengambil lolipop rasa jeruk lalu memakannya sambil membereskan bekas makan siang.

Sasuke menatap Sakura sambil mengemut lolipopnya, lalu memegang gagang lolipop itu dan melihatnya, lalu kembali melihat Sakura, dia tersenyum. Sepertinya dia mempunyai sebuah ide untuk menjahili Sakura.
"Sakura," panggil Sasuke dengan suara baritonnya.

"Apa?" tanya Sakura mengalihkan perhatiannya pada Sasuke masih mengemut lolipopnya

Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Sakura sedikit menjauh dari Sasuke tapi entah apa yang menahannya untuk tidak beranjak dari tempat itu. Sasuke menatap mata emerald Sakura dengan lembut, membuat Sakura terbuai akan tatapan mata onyx Sasuke yang tajam namun indah di mata Sakura.

Sasuke mendekatkan tangannya pada pipi Sakura, menyentuhnya. Sakura menjadi tegang dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya akibat sentuhan Sasuke, tapi Sakura menikmati hal itu. Perlahan Sakura menutup matanya, lebih menikmati sentuhan Sasuke. Perlahan, jemari Sasuke menyentuh dagu Sakura, lalu dia mengambil lolipop yang sedang dimakan Sakura.

Sasuke menyentuh bibir Sakura yang berwarna merah muda, mengusapnya perlahan. Sasuke tersenyum penih kemenangan melihat Sakura.

"Hei!" panggil Sasuke. Sakura segera membuka matanya, wajahnya sedikit memerah. "Mengharapkan sesuatu?" tanya Sasuke sambil menyeringai jahil Sakura tetap diam sambil menatap Sasuke, tapi wajahnya memerah.

"Aku tukar lolipopnya ya," kata Sasuke. Lalu memakan lolipop rasa jeruk milik Sakura dan menyerahkan lolipop rasa kola miliknya pada Sakura, langsung menyuapkannya ke mulut Sakura yang sedikit terbuka. Setelah itu dia langsung pergi dari atap sambil melambaikan tangannya pada Sakura yang menatap punggungnya.

Sakura segera tersadar, dan langsung berteriak kesal. "Sasukeee...!" Dengan wajah yang memerah, napas yang memburu dan jantung yang berdebar sangat cepat Sakura mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Langsung saja wajahnya menjadi merah padam.

"Cowok itu... Awas saja akan kubalas perbuatannya nanti," gerutu Sakura. Sakura baru saja sadar kalau dia sedang memakan lolipop bekas Sasuke. Kembali wajahnya memanas. 'Ini kan ciuman tidak langsung,' batin Sakura sembari memegang wajahnya yang memerah.

Sementara itu, dari balik tembok, Sasuke mengintip kegiatan Sakura dari tadi, dia sedikit tersenyum, lalu bergumam sebelum ia benar-benar meninggalkan atap.

"Gadis yang menarik."

To Be Continue


Komentarnya please... kalau bisa kasih kritik dan saran juga.

1 komentar:

  1. Hai salam kenal, dulu aku suka banget baca cerita fanfic sasusaku gini sampek aku baca cerita ini trus jadi berkesan dan mikir ini ceritanya Bagus ya trus sampek aku ingat judulnya biar nnti bisa baca kelanjutan ceritanya kalo d up. Dan selang beberapa tahun aku pengen baca lagi fanfiction trus kepikiran lagi sama judul cerita ini tapi kok gak pernah update lagi ya?? Apakah gak nulis cerita lagi? Tolong di balas karna emang aku udah lama banget pengen tau kelanjutan cerita ini. Trims

    BalasHapus